PONTIANAKTEREK.COM, PONTIANAK – Kota Pontianak menghadapi dua momentum besar secara hampir bersamaan, yaitu penyambutan Ramadan 1447 Hijriah dan perayaan Tahun Baru Imlek 2026. Meski berbeda tradisi dan keyakinan, seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan tertib, yang menjadi sorotan publik sebagai bukti stabilitas sosial yang terjaga di tengah padatnya agenda keagamaan dan budaya.
Pawai obor Ramadan dipusatkan di halaman Masjid Raya Mujahidin dan diikuti oleh ratusan hingga ribuan warga. Arak-arakan melintasi Jalan Ahmad Yani dan Jalan Karet dengan dukungan pengamanan aparat serta pengaturan lalu lintas yang terkoordinasi. Tradisi tahunan ini tidak hanya menjadi bagian dari penyambutan bulan suci, tetapi juga menjadi ajang untuk menyampaikan harapan publik. “Kami berharap seluruh jajaran pemerintah dapat menyajikan laporan keuangan yang semakin transparan dan akuntabel,” ujar salah satu peserta yang tidak disebutkan namanya.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menegaskan pentingnya menjaga komitmen keagamaan sekaligus menghormati perayaan pihak lain. Pernyataan tersebut disampaikannya usai mengikuti pawai obor di halaman Masjid Raya Mujahidin. “Ini adalah kegiatan budaya, keagamaan, dan religi. Komitmen kita menyambut bulan suci Ramadan harus kita laksanakan dengan lebih baik. Tapi pada saat yang sama, kita juga menghormati saudara-saudara kita yang merayakan Imlek,” katanya sebagai pengingat agar momentum keagamaan tidak menimbulkan gesekan sosial.
Di kawasan Jalan Gajahmada dan sejumlah titik lainnya, nuansa Imlek terlihat jelas dari pemasangan lampion serta aktivitas masyarakat yang merayakan pergantian tahun. Meski diwarnai kembang api dan peningkatan aktivitas malam hari, situasi kota tetap terkendali berkat pengawasan aparat keamanan dan pemerintah daerah yang dilakukan secara intensif.
Menjelang Cap Go Meh 2026, sempat muncul dinamika terkait kepengurusan Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Kota Pontianak dan MABT Indonesia. Namun hingga kini, situasi tetap kondusif dan dalam koridor damai. Pemerintah Kota Pontianak memastikan setiap kegiatan budaya tetap difasilitasi tanpa mengganggu ketertiban umum.
Banyak warga menilai, kemampuan Pontianak menjaga kondusivitas di tengah dua momentum besar menjadi indikator kedewasaan sosial masyarakat. Perayaan berjalan berdampingan tanpa gangguan berarti, di mana aktivitas ibadah tetap khusyuk sementara kegiatan budaya berlangsung dengan tertib.
Momentum berdekatan tersebut menjadi ujian sekaligus pembuktian bahwa stabilitas tidak terjadi secara kebetulan, melainkan dijaga melalui koordinasi yang baik, imbauan yang konsisten, serta kesadaran masyarakat untuk saling menghormati. Bagi sebagian warga, ini merupakan bentuk kepemimpinan yang terlihat langsung di lapangan dalam menjaga keseimbangan agar semua dapat merayakan keyakinannya dengan aman. (TR)
Penulis: Tim IT PONTER
Editor: Tim IT PONTER








