Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Indonesia Dilantik di Pontianak, Kalimantan Barat Jadi Pusat Pergerakan Nasional

Pontianakterek.com, PONTIANAK – Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Indonesia resmi dilantik di Hotel Novotel Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Selasa (10/2/2026).
Acara ini menandai langkah penting untuk menjadikan organisasi tersebut sebagai wadah adat dan budaya Tionghoa berskala nasional, dengan Kalimantan Barat sebagai pusat penggeraknya.
Ketua MABT Indonesia, Tanjung, menyampaikan bahwa organisasi ini sejak awal dibentuk dengan landasan visi kebangsaan, yang secara eksplisit tercantum dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dengan nama lengkap Majelis Adat Budaya Tionghoa Indonesia.
“Penamaan dengan menyertakan ‘Indonesia’ menunjukkan bahwa target kita adalah skala nasional. Kami berencana menyebarkan jaringan organisasi ke seluruh wilayah negara, khususnya daerah-daerah dengan jumlah penduduk Tionghoa yang signifikan,” ungkapnya dalam wawancara usai acara pelantikan.
Menurut Tanjung, tahap awal yang akan diprioritaskan adalah konsolidasi internal sebelum memperluas ke berbagai provinsi, antara lain DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sumatera Selatan, dan Bangka Belitung. Langkah ini dianggap krusial untuk membangun fondasi yang solid dan terkoordinasi secara menyeluruh.
Pelestarian nilai-nilai adat dan budaya Tionghoa di era kemajuan teknologi juga menjadi fokus utama MABT. Tanjung menekankan bahwa jika tidak dilakukan upaya penularan kepada generasi muda, identitas budaya akan mengalami kemunduran secara bertahap.
“Adat budaya bukan hanya sebatas rangkaian upacara dan seremoni. Di dalamnya terkandung nilai-nilai seperti penghargaan saling, hidup berdampingan, dan rasa hormat terhadap berbagai etnis yang ada di Indonesia. Semua ini perlu kita jaga bersama-sama,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Kehormatan MABT Indonesia, Oesman Sapta, mengemukakan bahwa penetapan Kalimantan Barat sebagai pusat memiliki makna strategis. Menurutnya, provinsi ini telah lama dikenal sebagai daerah yang menghargai keberagaman suku bangsa, budaya, dan agama.
“Kalimantan Barat telah menjadi rumah bagi seluruh suku bangsa di Indonesia. Oleh karena itu, sangat tepat jika dijadikan pusat bagi perkumpulan budaya Tionghoa yang mengedepankan persatuan, dengan landasan Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ucapnya.
Oesman juga menyoroti sinergi momentum pelantikan dengan kedatangan perayaan Imlek dan bulan Ramadan. Ia melihat hal ini sebagai simbol nyata toleransi dan kebersamaan antarumat beragama di tanah air.
“Perayaan seperti Imlek, Ramadan, Natal, dan Lebaran mungkin saja bertepatan waktu. Namun, semua bisa dirayakan dengan penuh kebahagiaan karena kita disatukan oleh semangat kebersamaan dan penghargaan terhadap keberagaman,” jelasnya.
Ia berharap kepengurusan MABT pada periode ini dapat berperan aktif, terbuka terhadap masyarakat, serta mampu menyampaikan program dan kontribusi organisasi secara transparan kepada khalayak luas.
Pelantikan pengurus MABT Indonesia diharapkan menjadi tonggak awal untuk memperkuat peran adat dan budaya Tionghoa sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional, sekaligus mempertegas komitmen organisasi dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di tengah keragaman yang ada. (TR)
Penulis: Tim IT Ponter
Editor: Tim IT Ponter







